Jumat, 22 Agustus 2008

Mars Terlihat Sebesar Bulan pada 27 Agustus 2007?

Jakarta - Mars akan terlihat sebesar bulan dari bumi pada 27 Agustus 2007. Bisakah fenomena alam itu terjadi?

Pernyataan tersebut beredar dari milis ke milis. Namun, tidak seluruhnya isi milis itu benar.

Isi lengkap milis tersebut seperti berikut:

Jangan sampai terlewatkan kesempatan langka yang hanya terjadi dalam 280 tahun sekali saja!!! Seluruh dunia menantikan planet Bumi kita mempunyai 2 bulan pada 27 Agustus 2007 nanti.

Planet Mars akan terlihat sangat terang di langit mulai awal Agustus. Planet Mars akan terlihat sebesar bulan planet Bumi kita dengan mata telanjang saja.

Dan puncaknya akan terlihat seperti bulan purnama (full moon) pada 27 Agustus jam 00.30 malam Senin pagi dini hari, saat jarak Mars dengan Bumi kita hanya sekitar 34.65M miles. Jangan sampai terlewatkan untuk 'menatap' langit yang akan seperti memiliki 2 bulan, karena jarak terdekat seperti itu hanya akan terjadi lagi di tahun 2287 yang akan datang
.

Namun saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (24/8/2007), astronom observatorium Boscha Lembang Dr Dani Herdi Wijaya tidak membenarkan hal tersebut. "Isi milis itu bohong. Ada yang tidak benar," katanya.

Tiap tahun, lanjut Dani, memang suka beredar isu-isu seperti itu melalui milis. Namun, informasi yang tidak benar dalam isu itu harus diluruskan.

Jarak Bumi-Mars, imbuh Dani, berkisar 5-6 juta kilometer, lebih jauh dibandingkan dengan jarak Bumi-Bulan yang hanya 400 ribu kilometer. "Dengan jarak seperti itu, tidak mungkin Mars terlihat sebesar bulan," ujar Dani.

Hal tersebut juga tidak dimungkinkan, sekalipun jarak Mars memasuki periode jarak terpendek orbit dengan Bumi, sekitar kurang dari 5 juta kilometer. "Bumi-Mars mempunyai orbit berdekatan, periodenya 5 tahunan," kata dosen astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.
(nwk/sss)

sumber : detik.com

Rabu, 13 Agustus 2008

Penurunan Harga Minyak dan Ekonomi Indonesia

KEKHAWATIRAN yang sempat menyelimuti sebagian besar penduduk dunia akibat kenaikan harga minyak bumi mulai reda.

Saat ini,secara mengejutkan justru terlihat tren penurunan harga minyak yang cepat. Setelah sempat mendekati level USD150 per barel, harga minyak saat ini sudah berada di bawah USD120 per barel. Kejutan-kejutan akibat gonjang-ganjing harga minyak bumi ini bisa diibaratkan seperti permainan roller coaster: para peserta permainan dikejutkan oleh gerakan ke atas secara tiba-tiba, tetapi sesaat kemudian dikejutkan oleh gerakan menukik yang tidak kalah tajamnya.

Yang jelas, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan semua penduduk Indonesia sudah pernah melewati masa itu dan kemungkinan sebagian besar tidak ingin hal tersebut terulang. Penurunan harga minyak disebabkan kombinasi berbagai faktor.Namun,konsep dasar ilmu ekonomi mungkin sudah bisa menjelaskan penyebab tersebut, yaitu melemahnya permintaan minyak internasional.

Kelesuan perekonomian Amerika Serikat (AS) sebagai akibat lanjutan krisis kredit perumahan tampaknya sudah tidak terelakkan. Laporan kerugian atau ancaman kebangkrutan berbagai perusahaan di bidang keuangan di AS dan Eropa masih terus menghiasi berita ekonomi dan bisnis di surat kabar serta media elektronik.

Harapan perekonomian AS untuk segera keluar dari krisis keuangan serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi belum terlihat sampai saat ini. Pesimisme tersebut membuat pasar minyak bumi terpengaruh secara signifikan karena AS merupakan konsumen minyak terbesar di dunia.

Berita yang muncul mengenai perekonomian Jepang juga tidak berbeda. Bayang-bayang resesi mulai diperhitungkan para pengambil kebijakan di sana. Perekonomian Eropa juga tidak membawa berita baik yang dapat mengembuskan optimisme penguatan permintaan minyak bumi.

Jangan pula dilupakan bahwa saat ini sedang berlangsung musim panas di belahan barat dunia yang secara siklus akan menurunkan permintaan minyak bumi. Pertanyaan berikutnya, bagaimana tren harga minyak ke depan dan apakah penduduk dunia harus siapsiap bermain roller coaster lagi? Ketika harga minyak sedang tinggi-tingginya,timbul dugaan bahwa minyak sedang menjadi komoditas spekulasi karena kelangkaan pasokan.

Kongres AS bahkan sampai melakukan investigasi atas tingkah polah investor di pasar minyak bumi. Permintaan minyak seolah-olah selalu berada pada tingkat yang tinggi dan tidak pernah surut sehingga ketika muncul isu kemungkinan berkurangnya pasokan seperti akibat perang saudara di Nigeria, harga minyak segera melambung dalam sekejap.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa terjadinya spekulasi harga minyak bumi ditunjang oleh ekspektasi tingginya permintaan minyak bumi di seluruh dunia dan masih jauhnya keberhasilan diversifikasi sumber energi. Ketika ekspektasi permintaan di AS menjadi tidak terlalu optimistis, berkurang jugalah kekuatan spekulasi harga minyak bumi.

Perang Rusia dan Georgia saat ini disertai ancaman Rusia untuk memblokade aliran minyak dari Georgia tidak terlalu berpengaruh terhadap harga minyak internasional. China sebagai salah satu raksasa ekonomi dunia yang sedang tumbuh sangat cepat tampaknya akan sedikit mengurangi konsumsi minyak setelah perhelatan Olimpiade selesai.

Dari sisi pasokan, mulai normalnya keadaan di Irak, meski tetap di bawah pengawalan keamanan yang ketat, akan membantu upaya meredam kelangkaan pasokan. Apabila Irak dapat segera mengalirkan hasil minyak buminya secara lebih baik ke luar negara itu, harga minyak bumi akan sulit mencapai USD150 per barel.

Faktor lain yang mungkin bisa menolong kepastian pasokan adalah peningkatan produksi di berbagai belahan dunia meski mungkin tidak dalam jangka pendek. Sempat tingginya harga minyak bumi juga membawa efek samping positif karena membuka mata dan mendorong keberanian para investor untuk melakukan eksplorasi sumber minyak baru meski terletak di pedalaman atau di tengah laut dalam sekalipun.

Potensi margin yang tinggi akan mengurangi keragu-raguan investor minyak untuk segera melakukan aktivitas di sektor yang memang memiliki tingkat risiko sangat tinggi. Apabila kita mencoba mengikuti prediksi salah satu lembaga keuangan internasional terkenal bahwa harga minyak akan berada di kisaran USD90-100 per barel,apa keuntungan dan kerugian yang akan dialami perekonomian Indonesia? Dari sisi APBN, beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik jelas akan berkurang cukup banyak.

Meskipun pengeluaran kemungkinan menurun, perlu dicatat juga bahwa harga yang lebih bersahabat tersebut juga akan mengurangi potensi penerimaan minyak yang diproduksi di Indonesia. Dengan kata lain, untung tidaknya APBN dari harga minyak yang lebih rendah akan sangat bergantung pada produksi minyak Indonesia.

Apabila produksi dapat mencapai 1 juta barel per hari atau lebih, ditambah peningkatan kemampuan kilang minyak domestik, harga ter- sebut dapat membantu APBN dan tidak akan memberatkan masyarakat lagi dalam bentuk kenaikan harga BBM. Untuk daerah penghasil migas,penurunan harga mungkin dapat mengurangi bagi hasil yang potensial mereka terima.

Namun, secara umum, harga tersebut masih akan menghasilkan bagi hasil yang sangat memadai bagi sebagian besar daerah penghasil migas. Karena sifatnya sebagai substitusi, harus diantisipasi pula turunnya harga gas bumi dan batu bara sebagai sesama sumber energi primer. Selain itu komoditas perkebunan yang berpotensi menjadi biofuel seperti kelapa sawit juga akan merasakan dampak yang sama, di samping kemungkinan masalah kelebihan pasokan di pasar dunia.

Penurunan harga beberapa komoditas pertambangan dan perkebunan tersebut otomatis akan memengaruhi ekspor Indonesia yang sejauh ini selalu mencatat pertumbuhan spektakuler. Penurunan harga tersebut juga akan memengaruhi tingkat keuntungan perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam produksi komoditas.

Ini sudah tecermin dari anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) akibat pelemahan harga saham perusahaan pertambangan dan perkebunan. Kelihatannya memang tidak nyaman melihat penurunan ekspor, keuntungan perusahaan, serta IHSG. Namun, harus diingat pula bahwa kenaikan ketiga indikator tersebut pada tahun lalu mungkin merupakan suatu pengecualian di atas kebiasaan.

Dengan demikian, apa yang ditunjukkan ketiga indikator tersebut pada tahun ini mungkin lebih realistis. Ekspor tetap tumbuh, tapi tidak setinggi sebelumnya.Perusahaan tetap untung, meski tidak sebesar sebelumnya, serta IHSG tetap naik, tetapi tidak secepat sebelumnya. Dapat disimpulkan, tren penurunan harga minyak masih menguntungkan perekonomian Indonesia.

Paling tidak, input produksi yang berupa energi tidak akan terlalu memberatkan lagi para pelaku usaha. Harga BBM juga tidak harus terus menjadi hantu bagi masyarakat banyak. Meski begitu, tren tersebut tidak boleh melenakan kita semua karena Indonesia harus tetap konsisten dalam usaha melakukan diversifikasi energi, terutama ke arah biofuel dan nuklir.

Indonesia juga perlu terus menjalankan penghematan energi di segala bidang serta terus berupaya mengubah bentuk subsidi dari harga menjadi subsidi tepat sasaran yang mengarah pada jaminan sosial berkesinambungan. Kondisi yang kelihatan menguntungkan dalam jangka pendek tidak boleh membutakan kepentingan masa depan yang akan jauh lebih sulit dan penuh tantangan.(*)
Bambang PS Brodjonegoro
Guru Besar dan Dekan Fakultas Ekonomi UI�
(//rhs)

sumber : okezone.com

Kamis, 07 Agustus 2008

Longgarnya Kebijakan Moneter AS & Inflasi Global

Spekulasi harga komoditas dan inflasi global adalah akibat kebijakan moneter longgar dari Federal Reserve Bank USA. Kondisi ini mengingatkan pada kegagalan kebijakan moneter Indonesia era 1997-1999 yang menyebabkan kejatuhan nilai tukar.

Bedanya, kesalahan kebijakan Negara kecil spt Indonesia hanya dirasakan rakyat Indonesia. Tapi kesalahan kebijakan Negara besar spt Amerika, Jepang, dan Euro Zone akan dirasakan oleh seluruh penduduk dunia.

Tekanan inflasi sampai bulan Juli 2008 tetap tinggi, dimana inflasi tahunan mencapai 11,90 persen dan inflasi tahun berjalan menjadi 8,85 persen. BI Rate pun naik menjadi sembilan persen. Siklus kenaikan BI Rate ini diperkirakan masih berlanjut.

Inflasi Global
Kenaikan inflasi terjadi merata di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, yang dilanda krisis finansial dan perlambatan pertumbuhan ekonomi, inflasi mencapai lima persen. Tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Inflasi di wilayah Euro, yang secara ketat mengikuti target inflasi maksimal dua persen, telah mencapai empat persen. Jepang, yang pada periode 1999-2005 selalu dalam bayangan deflasi, sekarang mengalami lonjakan inflasi menjadi dua persen.

Negara sedang berkembang seperti China dan India, yang selama ini ekonominya tumbuh cepat tanpa disertai inflasi tinggi, mulai kesulitan mengendalikan inflasi. Inflasi di China dan India masing-masing 8,5 persen dan 7,7 persen, tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.

Menarik juga memperhatikan inflasi negara kecil yang sangat terbuka terhadap ekonomi dunia seperti Singapura. Singapura biasanya berhasil dalam mengendalikan harga meskipun terjadi guncangan ekonomi dunia. Sejak 1983 inflasi di Singapura hampir selalu di bawah dua persen, kecuali pada periode 1990-1994 yang sempat berkisar tiga persen. Sekarang inflasi Singapura mencapai 7,5 persen.

Gambaran perkembangan inflasi diatas dengan akselerasi pada semester pertama 2008 menunjukkan bahwa inflasi sekarang ini bukan hanya masalah spesifik sebuah negara. Inflasi sekarang ini merupakan fenomena global.

Penyebab Inflasi
Inflasi tinggi saat ini didominasi oleh kenaikan harga-harga komoditas, khususnya sektor energi (seperti minyak, gas, dan batubara) dan sektor pertanian (seperti gandum, beras, jagung, dan minyak nabati).

Guncangan pada sisi produksi terkait dengan bahan baku industri mempunyai dampak berantai pada biaya produksi barang-barang lain. Fenomena ini dikenal sebagai inflasi akibat kenaikan biaya produksi (cost push inflation).

Lonjakan tajam permintaan di era pertumbuhan tinggi ekonomi dunia 2003-2007, khususnya dari negara industri baru seperti China dan India, juga dianggap menyebabkan kenaikan harga-harga komoditas. Sebagai gambaran, hampir 40 persen pertumbuhan permintaan minyak dunia era 2000-an berasal dari pertumbuhan konsumsi minyak China.

Sejalan dengan semakin ekstrimnya kenaikan harga-harga komoditas sepanjang akhir 2007 sampai pertengahan 2008, faktor permintaan dan penawaran sektor riil tidak dapat lagi menjelaskan fenomena tersebut. Banyak pihak, seperti politisi, pemerintah, dan komentator, menyalahkan kenaikan harga-harga akibat spekulasi di pasar berjangka komoditas.

Inflasi adalah Fenomena Moneter
Dari berbagai faktor penyebab inflasi, seperti interaksi permintaan-penawaran dan spekulasi, jarang sekali disebut faktor kebijakan moneter. Hal ini sangat aneh mengingat semua sejarah inflasi tinggi dan gelembung harga aset (saham, properti, dan harga komoditas) selalu disertai kebijakan moneter yang longgar.

Kebijakan moneter longgar ini terjadi sejak pertengahan 2007. Untuk mengatasi krisis finansial, Bank Sentral Amerika menurunkan Fed Fund Rate secara agresif, dari 5,25 persen pada Agustus 2007 menjadi dua persen pada April 2008. Salah satu akibatnya adalah depresiasi tajam dolar Amerika sepanjang periode Juni 2007 sampai April 2008, yaitu sekitar 18.5 persen terhadap Euro dan 21 persen terhadap Yen.

Sejalan dengan melemahnya Dollar Amerika, investor mencoba melindungi nilai aset/investasinya dengan membeli kontrak-kontrak komoditas. Maka harga-harga komoditas naik tajam meskipun permintaan sektor riil sebenarnya menurun sejalan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Berhubung sebagian besar perdagangan dunia menggunakan denominasi dolar Amerika Serikat, penurunan daya beli dolar mememicu inflasi global.

Pada saat ekonomi stabil, kebijakan moneter longgar tidak segera memicu inflasi karena penambahan likuiditas akan diimbangi dengan kenaikan permintaan likuiditas. Tapi di saat krisis, penambahan likuiditas meningkatkan ekspektasi krisis lanjutan. Permintaan uang turun dan spekulasi pada aset meningkat. Kebijakan moneter longgar tidak menyelesaikan masalah krisis finansial Amerika, tapi memicu krisis baru berupa bahaya inflasi tinggi.

Gelembung harga aset yang dipicu kebijakan moneter longgar terlihat pada periode akhir 1990-an pada saham sektor teknologi dan pada periode 2000-2006 di sektor perumahan. Saat ini tema pertumbuhan negara BRIC (Brazil, Rusia, India, dan China) dan booming komoditas menjadi target banjir likuiditas dari Amerika.

Implikasi Kebijakan
Inflasi di Indonesia saat ini adalah bagian fenomena global sebagai efek negatif kebijakan moneter longgar dari Amerika. Karena itu kenaikan BI Rate tidak akan efektif untuk memerangi inflasi. Lebih baik Bank Indonesia tidak melanjutkan kenaikan BI Rate. Apalagi kenaikan BI Rate hanya menambah beban pada ekonomi domestik dan memancing banjir aliran dana spekulatif jangka pendek.

Inflasi global akan mereda bila Amerika mulai menerapkan kebijakan moneter ketat dengan menaikkan Fed Fund Rate, minimal menjadi empat persen.

Kebijakan uang ketat terbukti efektif meredam spekulasi pada harga-harga aset. Pengetatan likuiditas di Amerika pada periode 2004-2006 menyebabkan pecahnya gelembung aset sektor properti. Sejak kuartal III-2007, pengetatan likuiditas di China telah membuat gelembung harga saham terpangkas sekitar 55 persen. Terakhir, kenaikan suku bunga Bank Sentral Euro menjadi 4.25 persen pada 3 Juli membantu meredam spekulasi di sektor komoditas.

Kami yakin Bank Sentral Amerika akhirnya terpaksa menerapkan kebijakan uang ketat dan menaikkan Fed Fund Rate. Baru lah inflasi global terkendali sejalan mengempisnya gelembung harga komoditas. Jangan heran bila harga minyak pun kembali jatuh di bawah USD100 per barel.

Siswa Rizali
* Penulis adalah ekonom dan manajer investasi pada NISP Sekuritas.
Tulisan ini adalah opini pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi kerja penulis.
email: siswa.rizali@nispsekuritas.com
(//rhs)

sumber : okezone.com

Selasa, 05 Agustus 2008

Harga Rokok Menaik

bersamaan dengan naiknya BBM dipastikan harga rokok-rokok akan ikut naik, apalagi sebentar lagi lebaran, wah itu sangat merugikan konsumen, truz kapan turunya donk.

Sabtu, 02 Agustus 2008

profile toko suhendar

toko suhendar yang dibangun sejak 1988 oleh Acep Waryo bersama istrinya Jumasih, semakin hari semakin berkembang